Interkalasi Pengetahuan: Transdisiplin, Kosmologi, dan Ko-Kreasi untuk Membaca Dunia yang Kompleks

Dalam perbincangannya dengan Benjamin Linder, Adam Bobbette (Ilmuwan Political Geology di University of Glasgow) mengenai Political Geology in Java, menawarkan pandangan yang melampaui batas disiplin ilmu konvensional.

Dalam perbincangannya dengan Benjamin Linder, Adam Bobbette (Ilmuwan Political Geology di University of Glasgow) mengenai Political Geology in Java, menawarkan pandangan yang melampaui batas disiplin ilmu konvensional. Ia mengusulkan cara berpikir interkalatif: melihat pengetahuan bukan sebagai lapisan-lapisan yang tersusun rapi seperti stratifikasi geologis, melainkan sebagai campuran tak linear dari berbagai fragmen sejarah, kosmologi, dan praktik sosial yang saling berjalin. Pendekatan ini mencerminkan semangat transdisiplin , suatu cara berpikir yang tidak hanya melintas batas ilmu, tetapi juga melibatkan kosmologi, spiritualitas, dan pengalaman hidup masyarakat, secara ko-kreasi dengan pengetahuan ilmiah.

Political Geology: Menyatukan Sains dan Politik dalam Membaca Bumi
Political geology lahir dari kegelisahan atas cara geological sciences beroperasi dalam masyarakat. Bobbette menyoroti bahwa geologi bukan hanya ilmu tentang batu dan lapisan bumi, melainkan juga tentang bagaimana pengetahuan itu membentuk dan dibentuk oleh kekuasaan, kolonialisme, dan kehidupan sosial.

Dalam konteks Indonesia, khususnya di Jawa, ilmu geologi kolonial berkembang bukan karena semata dorongan ilmiah, tetapi juga karena kebutuhan politik-ekonomi: untuk melindungi perkebunan dari letusan gunung berapi, menjaga keberlanjutan sistem tanam paksa, dan mengendalikan lanskap demi kepentingan kapital kolonial.

Dengan melakukan kajian geologi politik di Jawa, yang menarik dari Bobbette adalah pergeseran fokusnya dari ilmu tentang bumi menuju kehidupan sosial dari ilmu bumi. Ia menelusuri bagaimana geologi tidak hanya mempelajari tanah dan batuan, melainkan juga bagaimana masyarakat hidup bersama gunung, mengantisipasi letusan, dan menafsirkan gejala alam melalui kerangka spiritual dan kosmologisnya sendiri.

Kosmologi Lokal dan Sains Modern
Bobbette menempatkan kosmologi Jawa (khususnya di sekitar Gunung Merapi) bukan sebagai sistem kepercayaan yang “tradisional” atau “pramodern”, melainkan sebagai bentuk pengetahuan geologis alternatif. Di sana, bumi bukan entitas pasif, melainkan makhluk hidup yang berdenyut, memiliki kehendak, dan berelasi dengan manusia dalam tatanan moral dan spiritual.
Kosmologi seperti ini menghadirkan epistemologi lain: gunung bukan sekadar obyek pengamatan, melainkan subyek yang memiliki agensi, suatu gagasan yang kini juga berkembang dalam ekologi politik dan teori more-than-human.

Interaksi antara kosmologi lokal dan sains modern tidak bersifat satu arah. Bobbette menunjukkan bagaimana para geolog kolonial di Hindia Belanda juga belajar dari praktik dan narasi lokal untuk memahami pola letusan dan dinamika vulkanik. Dengan kata lain, pengetahuan ilmiah Barat itu sendiri terinterkalasi oleh fragmen-fragmen pengetahuan pribumi.
Interkalasi di sini bukanlah asimilasi, melainkan percampuran aktif antara sistem-sistem pengetahuan yang berbeda, yang menghasilkan horizon baru dalam memahami bumi dan kehidupan.

Potensi Interkalasi sebagai Logika Transdisiplin
Konsep interkalasi yang diambil Bobbette dari geologi menjadi metafor penting bagi cara berpikir transdisipliner. Dalam geologi, interkalasi berarti campuran material dari berbagai masa yang terjepit dan menyatu secara tidak linear. Secara epistemologis, ia menggambarkan proses pencampuran pengetahuan yang tidak tunduk pada kerangka hierarkis antara sains Barat, pengetahuan lokal, dan pengalaman spiritual manusia dengan alam.

Transdisiplin, dalam konteks ini, bukan sekadar kerja sama lintas bidang ilmu, tetapi kerja bersama lintas dunia epistemik: dunia laboratorium, dunia ritual, dunia petani, dunia penjaga gunung, dunia birokrat, dan dunia akademisi. Semua membawa logika dan bahasa sendiri, yang ketika dipertemukan, membuka kemungkinan baru dalam memahami fenomena kompleks seperti perubahan iklim, bencana, atau transformasi sosial-ekologis.

Ko-Kreasi Pengetahuan di Era Kompleksitas
Gagasan Bobbette tentang interkalasi pengetahuan mengandung semangat ko-kreasi, penciptaan bersama pengetahuan antara sains modern dan kosmologi lokal. Dalam konteks ini, masyarakat bukan sekadar “informan” atau “obyek penelitian”, tetapi mitra epistemik yang memiliki logika berpikir, etika, dan metodologi sendiri dalam memahami bumi.

Ko-kreasi membuka ruang untuk membaca masalah-masalah kompleks: seperti krisis ekologis, konflik agraria, atau ketidakpastian iklim, melalui berbagai lapisan pengalaman. Ia menolak reduksi teknokratik dan membuka jalan bagi pemahaman yang lebih reflektif dan inklusif, di mana spiritualitas dan relasi ekologis diakui sebagai bagian dari produksi pengetahuan.

Melalui The Pulse of the Earth, Bobbette mengingatkan bahwa bumi bukanlah sekadar objek geologis, melainkan entitas yang memiliki denyut sosial, politik, dan spiritual. Di Jawa, denyut itu terasa di lereng Merapi, tempat manusia dan gunung hidup dalam dialog abadi. Membaca bumi berarti juga membaca hubungan kuasa, kolonialisme, kosmologi, dan memori. Di situlah kekuatan politik geologi: mengungkap bagaimana bumi dan pengetahuan tentangnya, selalu bersifat politis, terbuka, dan berlapis.

Transdisiplin dan interkalasi seperti yang ditawarkan Bobbette membuka jalan menuju kesadaran bumi: sebuah cara pandang yang menyatukan bumi, manusia, dan pengetahuan dalam satu ekologi pemahaman yang saling bergantung. Ketika sains belajar mendengarkan kosmologi, dan kosmologi membuka diri pada sains, kita memperoleh bukan sekadar pengetahuan baru, tetapi cara baru untuk mengada di dunia: hidup di tengah ketidakpastian, membaca tanda-tanda bumi, dan mencipta pengetahuan bersama demi keberlanjutan kehidupan.

David Ardhian 20/10/2025

Share

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp