5th Graduate Student Monthly Sustainability Seminar “Can machine fall in love? Data & techno politics towards social-ecological justice”

Dalam cengkeraman epistemic injustice itu, tidak mustahil data-data yang diperoleh kemudian diolah menjadi informasi yang disebarluaskan melalui teknologi. Konsekuensinya, alih-alih membuat dan menyebarluaskan informasi yang sahih justru sebaliknya menebarkan manipulasi informasi, dis-informasi, dan mis-informasi. Melalui kerja algoritme, teknologi mesin yang tercipta seperti robot dapat bergerak sesuai dengan pola instruksi yang ditanamkan.
CTSS-GSMSs 5

Saat ini kita masuk dan berada dalam era industri 4.0 yang ditandai dengan adopsi cyber-physical systems, internet of things (IoT) dan smart technologies. Pada era yang identik dengan revolusi industri yang lebih maju daripada era sebelumnya ini, melekat pula gelombang disrupsi. Pola interaksi yang mapan sebelumnya di pelbagai bidang mengalami perubahan secara cepat dan drastis di era industri 4.0. Di tengah perubahan yang cepat itu dan melalui peralatan teknologi yang cangggih, data yang diolah menjadi informasi selanjutnya disebarkan secara meluas tanpa tahu atau abai pada akurasi isi sebuah informasi. Begitu juga, peralatan canggih terus-menerus dirancang untuk memberikan kemudahan dan kecepatan.

Lalu bagaimana nasib keberlanjutan pengelolaan sumberdaya alam di era kemajuan industri 4.0 ini? Sebuah keberlanjutan tidak hanya dimaknai pada aspek sumberdaya alam tapi juga sumberdaya sosial dan sumberdaya ekonomi untuk pemenuhan kebutuhan kita sendiri tanpa mengurangi kemampuan generasi masa depan untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Namun untuk mencapai keberlanjutan itu, setidaknya terdapat tantangan besar terutama terkait dengan epistemic injustice dan keakuratan informasi. Epistemic injustice mencakup testimonial injustice dan hermeneutical injustice. Testimonial injustice mengacu pada ketidakadilan (unfairness) terkait dengan tingkat kepecayaan pada kata-kata seseorang karena identitasnya sedangkan hermeneutical injustice merujuk pada ketidakadilan (injustice) berhubungan dengan bagaimana orang mengintepretasi pengalamannya. Keduanya menjadi sumber untuk mengetahui agar memperoleh data dan informasi. Dalam cengkeraman epistemic injustice itu, tidak mustahil data-data yang diperoleh kemudian diolah menjadi informasi yang disebarluaskan melalui teknologi. Konsekuensinya, alih-alih membuat dan menyebarluaskan informasi yang sahih justru sebaliknya menebarkan manipulasi informasi, dis-informasi, dan mis-informasi.

CTSS_5th_GSMS_01

Menyadari dua tantangan epistemic injustice dan keakuratan informasi, banyak ruang dan isu yang kemudian dikontestasikan yang berpeluang mengancam keberlanjutan termasuk sumberdaya alam. Misalnya, terkait dengan luasan lahan, kebakaran hutan, dan area konflik pemanfaatan lahan. Untuk menjawab dua tantangan itu sekaligus memanfaatkan kemajuan teknologi dan informasi di era industri 4.0, maka menjadi penting menciptakan data dan mengolah informasi dengan melibatkan kelompok masyarakat bawah atau yang terpinggirkan. Sebagian gagasan dan praktik itu tercermin dalam pemetaan hutan adat dengan menggunakan drone dan melibatkan masyarakat lokal/setempat. Pemetaan ini sekaligus menjadi counter mapping terhadap peta yang telah ada sebelumnya. Contoh lain penggunaan teknologi adalah pertanian presisi sehingga mampu mengidentifikasi tingkat tekanan tumbuhan, mengantisipasi kegagalan dan berbiaya murah.

Namun perlu dicatat bersama bahwa keberadaan (penciptaan dan persebaran) data, informasi dan teknologi itu musti dimaknasi secara politis. Di dalam data, informasi dan teknologi itu embedded aspirasi atau kepentingan kelompok tertentu. Sebab melalui algoritme dan cara kerjanya, pembuat/ pengguna dapat menentukan barang/orang, klasifikasi, jumlah, analisis dan bahkan untuk mengabaikan barang/orang dalam sebuah hasil kerja algoritme.

CTSS_5th_GSMS_02

Melalui kerja algoritme, teknologi mesin yang tercipta seperti robot dapat bergerak sesuai dengan pola instruksi yang ditanamkan. Tak dipungkiri saat ini bahwa mesin robot dapat membantu memudahkan pekerjaan bahkan menggantikan pekerjaan manusia. Ketika mesin lebih pintar dari manusia, berhitung lebih cepat dari manusia, lebih presisi ketimbang manusia, lalu apa itu manusia? Hal itu tidak mustahil terjadi. Meskipun begitu, yakinlah bahwa yang tersisa dari manusia yang utama terletak pada empati, kreativitas, kegilaan dan cinta. Sebesar apapun kemajuan sebuah sains dan teknologi, keempat aspek tersebut masih menjadi kekhasan dan keutamaan yang dimiliki oleh manusia.

Materi : Unduh Disini

Share

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.