Melihat Potensi Desa Lifuleo

Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences, CTSS IPB University bersama dengan YAPEKA, Yayasan Penabulu dan Indonesia Ocean Pride (IOP) melaksanakan program The Coral Reef Rehabilitation and Management Program – Coral Triangle Initiative (COREMAP-CTI).
CTSS-IPB

Mata pencaharian masyarakat yang berada dipesisir pantai tidak lepas dari kegiatan di laut. Kegiatan masyarakat yang memiliki mata pencaharian di laut sangat bergantung dengan kondisi alam atau dapat dikatakan sangat bergantung dengan kebaikan alam. Misalnya, di Desa Lifuleo, sebagian besar mata pencaharian masyarakat adalah menjadi petani budidaya rumput laut. Jika cuaca sedang baik, maka hasil panen rumput laut juga akan baik, namun jika cuaca sedang tidak baik (akibat perubahan musim) seperti suhu air laut meningkat, penyakit atau terjadi badai, maka nelayan tidak akan mendapat apa-apa. Mereka akan sangat merugi dan usaha selama berbulan-bulan itu akan berakhir sia-sia.

Salah satu desa di sebuah kecamatan di Kupang Barat bernama Desa Lifuleo memiliki pemandangan yang sangat indah. Hamparan pasir putih dan laut yang biru, merupakan salah satu potensi alam yang menjadi daya tarik wisata di Desa Lifuleo. Selain itu, atrakasi mammalia lumba-lumba dan paus di daerah Semau, juga menjadi salah satu potensi pengembangan wisata di daerah tersebut. Pengembangan potensi ekowisata ini telah mendapatkan perhatian dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) melalui Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF). Bappenas melalui ICCTF menggulirkan program The Coral Reef Rehabilitation and Management Program – Coral Triangle Initiative (COREMAP-CTI). Program ini dilaksanakan oleh Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University bersama dengan anggota konsisum lainnya yaitu YAPEKA, Yayasan Penabulu dan Indonesia Ocean Pride (IOP). CTSS bersama anggota konsorsium lainnya melaksanakan kegiatan Paket 2, yaitu “ Pemanfaatan Kawasan Konservasi Perairan oleh Masyarakat Secara Berkelanjutan di Laut Sawu”.

Kegiatan pemilihan bibit rumput laut (Foto: Ujang)

Desa Lifuleo adalah salah satu desa di Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Desa ini memiliki luas 6,8 km2 dengan jumlah penduduk 1191 orang. Sebagian besar (67.4 persen) masyarakat Desa Lifuleo memiliki mata pencaharian sebagai petani rumput laut, sedangkan lainnya bekerja sebagai nelayan sampingan (32.6 persen). Desa Lifuleo memiliki beberapa potensi sumberdaya alam yang beragam diantaranya adalah potensi alam dan pertanian.

Potensi alam yang dimiliki oleh Desa Lifuleo juga merupakan daya tarik wisata yang ada di alam diantaranya  pantai yang indah, pertanian rumput laut, Danau Todale, Gua kelelawar, pergerakan burung migran yang datang pada bulan Juni – Agustus dan Penyu Hijau  yang datang untuk bertelur (Juni – September).

Potensi alam lainnya yang dimiliki oleh Desa Lifuleo yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sebagai sumber listrik masyarakat di Desa Lifuleo dan sekitarnya. Selan itu, potensi alam yang dimiliki oleh Desa Lifuleo juga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat lokal. Diantaranya, untuk kegiatan ekonomi yang ada di sekitar pantai, masyarakat lokal biasanya berjualan makanan, hasil pertanian masyarakat lokal serta ikan hasil tangkapan nelayan lokal. Hasil dari pertanian masyarakat lokal yaitu jagung dan kacang tanah dijual dalam bentuk makanan olahan dari hasil pertanian seperti jagung rebus, jagung goreng, dan kacang rebus di sekitar Pantai Oesina. Potensi pertanian lainnya yang ada di Desa Lifuleo diantaranya adalah sadap Lontar, Mente dan Rumput Laut. Untuk Rumput Laut, biasanya dijual dalam bentuk kering dengan harga di tingkat petani Rp. 15.000 per kg. Biasanya yang membeli hasil pertanian rumput laut adalah pengumpul (tokeh). Untuk ikan hasil tangkapan dari nelayan lokal dijual dalam keadaan segar ataupun dalam produk olahan (ikan asin). Kegiatan sadap lontar akan menghasilkan gula cair. Biasanya gula cair dijual dalam kemasan jerigen ukuran 1 liter hingga 5 liter. Untuk harga jual gula sabu, ukuran 5 Liter sebesar Rp. 160.000. Secara keseluruhan, lontar dapat dimanfaatkan sebagai kayu bakar, daun sebagai bahan pembuat anyaman maupun atap rumah, nira dapat di olah menjadi gula cair, gula lempeng, minuman beralkohol maupun dapat diminum secara langsung sedangkan buahnya dapat dimakan secara langsung (buah muda) ataupu dapat di olah menjadi bahan makanan yang lain (Marlistiyati et al. 2016).

Written by Galuh

Reference:

Marlistiyati, Mahayasa, Marthen R Pelokila. Pemanfaatan dan Ekonomi Lontar Bagi Masyarakat Di Kota Kupang. Jurnal Bumi Lestari, Volume 16 No. 2, Agustus 2016, hlm. 139-154.

 

Share

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.