MENEGOSIASIKAN BATAS-BATAS: Orkestrasi Inisiatif dan Praksis Lanskap Berkelanjutan “Kelola Sendang” Indonesia

Mengumpulkan yang terserak, menyelamatkan yang tersisa. Kalimat ini adalah ungkapan dari usaha yang dilakukan oleh KELOLA Sendang Project dalam menjalankan pendekatan Lanskap selama kurun waktu 4 tahun di Kabupaten Musi Banyuasin dan Banyuasin, Sumatera Selatan.

Mengumpulkan yang terserak, menyelamatkan yang tersisa. Kalimat ini adalah ungkapan dari usaha yang dilakukan oleh KELOLA Sendang Project dalam menjalankan pendekatan Lanskap selama kurun waktu 4 tahun di Kabupaten Musi Banyuasin dan Banyuasin, Sumatera Selatan. Pendekatan lanskap yang komprehensif, yang memadukan unsur-unsur lingkungan, ekonomi dan keadilan sosial telah dilakukan bersama berdasarkan prinsip kemitraan antara pemerintah, masyarakat dan sektor swasta. Kemitraan adalah kunci dari pendekatan lanskap. Salah satu tantangan utama dalam pembangunan adalah bagaimana lingkungan dapat bersama-sama diperjuangkan untuk menjamin fungsi ekosistemnya agar tetap terjaga. Ditengah-tengah perubahan tata guna lahan, hutan menjadi pulau-pulau ekologis yang penting bagi keberlanjutan kehidupan di bumi. Pulau-pulau ekologis inilah yang sekarang posisinya menjadi terserak di antara bentang alam luas, yang sedang bertransformasi seiring dengan modernisasi.

Mengumpulkan yang terserak, menyelamatkan yang tersisa, menjadi jantung bagi KELOLA Sendang. Salah satu ciri dari kehidupan adalah dinamika. Di atas lintasannya yang cenderung tak menentu, variabel-variabel kehidupan yang sama sekali baru dan bahkan asing bermunculan tanpa ampun. Siklus ini telah terjadi sekian lama dan terus mengalami akumulasi sampai suatu hari, suatu pagi, ketika kita semua meneguk air dari gelas pertama, kita tiba-tiba tertegun dan sejenak merenungi apa yang ada di sekitar kita. Variabel-variabel kehidupan sangat majemuk, plural, warnanya beragam, terasa terpisah-pisah, dan kerap menimbulkan kesan bahwa mereka sulit dikaitkan satu sama lain. Kondisi ini yang banyak disebut pemikir pasca modern sebagai kompleksitas. Kondisi kompleks muncul sebagai konsekuensi atas jalannya sejarah, tempat dimana ragam-hidup berinteraksi; berbenturan; dan bersitegang. ‘Komunikasi’ itulah yang menghasilkan jejaring cabang hidup dari satu batang pohon genealogis. Masing-masing cabang membentuk sistemnya secara mandiri. Kadang berkomunikasi dengan batang induk, namun kerap kali lepas-lepas tertutup rimbun daun, buah, dan bahkan gulmanya sendiri.

ZSL melalui KELOLA Sendang—sebagai salah satu keturunan dari silsilah komunikasi antar-ragam—berusaha untuk menjadi bagian dalam usaha menautkan kembali cabang-cabang tersebut lengkap dengan kandungan informasi historis yang melekat di sulurnya. Selama kurang lebih empat tahun sejak akhir 2015 hingga awal 2020, KELOLA Sendang menyibak rimbunnya kompleksitas cabang hidup yang bernafas di area seluas sekitar 1.6 juta hektar. Kawasan tersebut merupakan luasan utuh dari Taman Nasional Berbak Sembilang dan Suaka Margasatwa Dangku serta wilayah sekitarnya yang kemudian disebut sebagai Lanskap Sembilang Dangku, terletak di Kabupaten Banyuasin dan Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Dalam usaha mengurai kompleksitas tersebut, KELOLA Sendang menggunakan pendekatan lanskap yang secara hati-hati memperhatikan kaitan seluruh elemen di dalam bentang area tersebut. Secara umum, pendekatan lanskap menitikberatkan pada usaha-usaha untuk membangun ruang dialog antar-ragam pemangku kawasan atau pengelola kawasan yang sangat plural dan olehnya membawa berbagai varian kepentingan. Hasil dari dialog tersebut kemudian disikapi sebagai pedoman untuk menyusun ruang hidup bersama yang berkelanjutan.

Dalam upaya mengumpulkan yang terserak dan menyelamatkan yang tersisa, diterbitkan buku yang berjudul MENEGOSIASIKAN BATAS-BATAS: Orkestrasi Inisiatif dan Praksis Lanskap Berkelanjutan “Kelola Sendang” Indonesia. Buku ini merupakan sebuah upaya dalam mengabadikan pengetahuan-pengetahuan yang didapatkan dari program KELOLA Sendang yang telah berjalan.

 

Baca MENEGOSIASIKAN BATAS-BATAS: Orkestrasi Inisiatif dan Praksis Lanskap Berkelanjutan “Kelola Sendang” Indonesia 

*Desclaimer: buku tersebut disusun oleh tim penulis yang berasal dari Critical Pedagogy Indonesia

Share

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.