CTSS IPB University Belajar Bersama dengan Masyarakat Di Desa Penyangga Taman Nasional Way Kambas, Lampung

Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University belajar bersama dengan masyarakat di Desa Braja Harjosari dan Labuhan Ratu IX, Lampung Timur. Dua desa ini merupakan desa penyangga Taman Nasional Way Kambas.

CTSS IPB University Belajar Bersama dengan Masyarakat Di Desa Penyangga Taman Nasional Way Kambas, Lampung

Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University belajar bersama dengan masyarakat di Desa Braja Harjosari dan Labuhan Ratu IX, Lampung Timur. Dua desa ini merupakan desa penyangga Taman Nasional Way Kambas.

Dr Annisa Utami Seminar, peneliti dari CTSS IPB University mengatakan, pada program ini, pihaknya ingin mengenal mata pencaharian dan tata guna lahan partisipatif yang dilakukan oleh masyarakat di desa penyangga Taman Nasional Way Kambas. “Kami ingin tahu, apakah masyarakat masih benar-benar bergantung pada hutan maupun taman nasional, serta ingin mengetahui kondisi mata pencaharian masyarakat selama ini dan bagaimana caranya supaya mata pencaharian tersebut dapat berkelanjutan,” terang Anisa Utami Seminar, dosen muda IPB University.

Terkait tata guna lahan partisipatif, Annisa menjelaskan bahwa konsep tersebut tidak bisa dipraktikkan dalam waktu singkat dan memerlukan keterlibatan banyak pihak. “Jadi kami di sini hanya mengenalkan tentang pentingnya tata guna lahan partisipatif untuk membangun desa,” terangnya.

Dr Annisa menjelaskan, melalui pelatihan perencanaan tata guna lahan secara partisipatif, masyarakat diharapkan dapat lebih sadar dan memahami mata pencaharian berkelanjutan yang terintegrasi.

Lebih lanjut, Annisa menjelaskan, berdasarkan fakta di lapangan, dua desa yang disambangi tersebut telah banyak menerima program-program dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) maupun pemerintah. Hal ini menyebabkan ada banyak kelompok-kelompok binaan sepeti kelompok wanita tani (KWT), kelompok tani, maupun kelompok lain yang telah dibentuk sebelumnya.

“Sayangnya, ketika program-program itu selesai, maka kelompok-kelompok ini tidak didampingi lagi dan kemampuan untuk mencari invoasi dalam memecahkan solusi masih terbatas. Rata-rata kelompok terus berjalan saja dengan kondisi apa adanya,” kata Annisa.

Ia menyebut, dampak yang diakibatkan dari hal tersebut adalah kelompok tidak berkembang, meskipun kelompok terus berkegiatan.” Melalui penelitian-penelitan yang transdisiplin, perlu dilihat lebih dalam lagi, sampai mana kelompok-kelompok binaan ini perlu didampingi agar bisa berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” terang Annisa Utami Seminar, dosen IPB University dari Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat.

Keyword: CTSS IPB, transdisiplin, sustainability science, pengabdian masyarakat
Kategori: SDGs-4, SDGs-17, SDGs-11

Share

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.