Dalam rangka memperingati Hari Bumi yang jatuh pada 22 April, Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences IPB University (CTSS IPB) menyelenggarakan forum diskusi Transdisciplinarity Talk bertema ekoteologi dan krisis lingkungan dalam perspektif filsuf Muslim kontemporer Seyyed Hossein Nasr. Kegiatan ini menghadirkan Lisa Febriyanti sebagai narasumber dan dipandu oleh Prof. Husain Alatas sebagai moderator.
Dalam pemaparannya, Lisa Febriyanti menjelaskan bahwa krisis ekologis yang terjadi saat ini bukan hanya persoalan teknis atau kegagalan sistem pembangunan, tetapi juga merupakan krisis makna dan kesadaran spiritual manusia modern. Menurutnya, meskipun manusia telah memiliki pengetahuan dan teknologi yang semakin maju untuk memahami bumi, pada saat yang sama manusia justru turut mempercepat kerusakan lingkungan akibat cara pandang yang memisahkan alam dari dimensi sakralnya.
Mengacu pada pemikiran Seyyed Hossein Nasr, modernitas dinilai telah melahirkan paradigma yang melihat alam semata sebagai objek material dan “sumber daya” yang dapat dieksploitasi tanpa batas. Alam tidak lagi dipahami sebagai tanda-tanda ketuhanan atau ruang spiritual yang memiliki makna mendalam bagi kehidupan manusia. Pandangan tersebut dinilai menjadi akar dari berbagai persoalan ekologis global, mulai dari perubahan iklim, krisis pangan, kerusakan ekosistem, hingga ancaman sosial-politik yang semakin kompleks.
Diskusi juga menekankan pentingnya pendekatan lintas disiplin dalam menghadapi krisis lingkungan. Penyelesaian persoalan ekologis dinilai tidak cukup hanya melalui pendekatan ilmiah dan teknologi, tetapi juga perlu melibatkan nilai-nilai agama, spiritualitas, budaya, dan pengetahuan masyarakat adat. Dalam forum ini, Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences IPB University menegaskan komitmennya untuk terus mendorong integrasi ilmu pengetahuan akademik dengan kearifan lokal dan perspektif transdisipliner dalam membangun keberlanjutan.
Salah satu gagasan utama yang dibahas adalah konsep tauhid sebagai cara pandang yang menghubungkan manusia, Tuhan, dan kosmos dalam satu kesatuan realitas. Dalam perspektif ini, manusia diposisikan bukan sebagai penguasa mutlak alam, melainkan bagian dari kosmos yang memiliki tanggung jawab etis dan spiritual untuk menjaga keseimbangan kehidupan. Alam dipahami sebagai “wahyu primordial” yang mengandung tanda-tanda kebesaran Tuhan dan perlu dibaca melalui kesadaran batiniah, bukan hanya logika materialistik.
Forum berlangsung interaktif dengan berbagai tanggapan peserta yang mengaitkan ekoteologi dengan budaya lokal, pendidikan lingkungan, ekofeminisme, kapitalisme, hingga praktik konservasi berbasis masyarakat. Peserta juga menyoroti pentingnya menghidupkan kembali pengetahuan tradisional dan hubungan spiritual manusia dengan alam sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran ekologis generasi masa depan.
Melalui kegiatan ini, Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences IPB University berharap diskusi mengenai ekoteologi dapat menjadi ruang refleksi bersama untuk membangun cara pandang yang lebih utuh terhadap relasi manusia dan lingkungan. Krisis ekologis yang terjadi saat ini dinilai membutuhkan perubahan mendasar dalam kesadaran manusia, yaitu mengembalikan penghormatan terhadap alam sebagai bagian dari kehidupan yang sakral dan saling terhubung.


