CTSS IPB University Selenggarakan Bimonthy Talk on Sustainable Development Goals

Center for Transdisciplinary and Sustainability Science (CTSS) IPB University yang ditunjuk sebagai IPB SDGs Network menyelenggarakan Bimonthly Talk on Sustainable Development Goals (SDGs), 21/4. Diskusi seri pertama ini membahas tentang The Sciences of SDGs and What G20 Could Do to Promote Food Security?.

Center for Transdisciplinary and Sustainability Science (CTSS) IPB University yang ditunjuk sebagai IPB SDGs Network menyelenggarakan Bimonthly Talk on Sustainable Development Goals (SDGs), 21/4. Diskusi seri pertama ini membahas tentang The Sciences of SDGs and What G20 Could Do to Promote Food Security?.

Profesor Damayanti Buchori, Kepala CTSS IPB University mengatakan, penyelenggaraan seri diskusi ini merupakan rangkaian dari kegiatan Tink 20 (T20). Ia melanjutkan, sebagai IPB SDGs Network, CTSS mempunyai tugas untuk menyebarluaskan kegiatan-kegiatan SDGs yang dikerjakan oleh IPB University.

“Terkait hal tersebut, kami menyelenggarakan kegiatan rutin tentang SDGs talk. Seri pertama ini membahas topik yang penting terkait G20 dan SDGs,” kata Prof Damayanti Buchori, dosen IPB University dari Departemen Proteksi Tanaman.

Seri pertama Bimonthly Talk on Sustainable mengundang Dr Bayu Krisnamurthi, Ketua IPB SDGs Network periode 2019-2021 dan Prof Arief Anshory Yusuf, Founder SDGs Universitas Padjajaran.

Dalam kesempatan ini, Dr Bayu Krisnamurthi menjelaskan bahwa Presidensi G20 tahun 2022 menjadi giliran Indonesia. Ia menyebut, tema Presidensi G20 Indonesia tahun 2022 adalah Recover Together, Recover Stronger. Tema tersebut dipilih bertepatan dengan pandemi COVID-19 yang telah melanda dunia.

“Yang dibawakan Indonesia sebagai tuan rumah adalah menjadikan SDGs sebagai common basic principle, sebagai recover together, recover stronger,” kata Dr Bayu Krisnamurthi, dosen IPB University dari Fakultas Ekonomi dan Manajemen.

Ia menjelaskan, maksud dari recover adalah menjadikan track pencapaian SDGs sebagai guidens proses recovery. Proses recovery tersebut dimaksudkan menjadikan SDGs sebagai panduannya.

“Recovery ini dihadapkan dengan kenyataan bahwa di tahun 2020, tidak ada satu pun SDGs yang tercapai, bahkan dari beberapa target justru bertentangan,” tambah Dr Bayu.

Dr Bayu menambahkan, posisi Indonesia di G20 dipandang sebagai penyeimbang bagi negara berkembang dan negara maju. Hal ini karena Indonesia membawakan kepentingan domestik dan kepentingan negara miskin dan berkembang. Indonesia juga mengedepankan kerja sama multilateral dan mengedepankan pemulihan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

“Ada tiga isu prioritas yang diangkat dalam Presidensi G20 Indonesia, yaitu kesehatan global, digital transformation dan sustainable energy transition,” tambah Dr Bayu.

Dalam kesempatan yang sama, Prof Arief Anshory Yusuf menyampaikan tentang peran sains dalam pencapaian SDGs. Ia menyebut, akademisi dan saintis memiliki peran terhadap pencapaian SDGs di Indonesia.

“Hal yang dapat dilakukan yaitu melakukan riset-riset, baik basic research maupun terapan, baik riset saintek maupun sosial humaniora yang mendukung pencapaian SDGs,” kata Prof Arief.

Ia melanjutkan, sebagai akademisi, para dosen harus mendidik dan melatih generasi-generasi baru yang menjadi agen pembangunan atau agen SDGs. Tidak hanya itu, ia juga menghimbau agar akademisi dapat meningkatkan kredibilitas SDGs dan relevant reforms atau policies. (Ra)

Keyword: IPB SDGs network, keberlanjutan, pembangunan berkelanjutan, G20 Indonesia

Kategori: SDGs-17, SDGs-2, SDGs-13, SDGs-15

Share

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.