CTSS IPB Dorong Pemanfaatan Kearifan Lokal melalui Sistem Manajemen Pengetahuan

Upaya merespons tantangan global, khususnya krisis ekologis dan pembangunan yang tidak berkelanjutan, memerlukan pendekatan baru yang lebih inklusif dan berbasis pengetahuan.

Centre for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University menegaskan pentingnya pemanfaatan pengetahuan lokal sebagai solusi atas krisis ekologis dan pembangunan yang tidak berkelanjutan. Hal ini mengemuka dalam forum Afternoon Discussion on Redesigning the Future yang mengangkat tema “Discovering–Capturing–Sharing–Applying: Knowledge Management System untuk Masyarakat”.

Direktur CTSS IPB University, Prof. Damayanti Buchori, menyatakan bahwa dunia saat ini berada pada titik kritis akibat model pembangunan yang eksploitatif. Menurutnya, pendekatan tersebut tidak lagi relevan dan perlu digantikan dengan model yang lebih berkelanjutan dan regeneratif.

“Jika kita tidak mengubah cara kita hidup dan membangun, maka kerusakan lingkungan akan semakin parah. Pengetahuan lokal menjadi salah satu kunci untuk mengubah arah pembangunan menuju keberlanjutan,” ujarnya.

Diskusi ini menghadirkan Dr. Yani Nur Hadriani sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa knowledge management system (KMS) merupakan pendekatan strategis untuk mengelola pengetahuan, terutama yang bersifat tacit seperti pengalaman, intuisi, dan praktik tradisional masyarakat.

Menurut Yani, KMS tidak hanya berfungsi sebagai sistem penyimpanan data, tetapi mencakup keseluruhan proses mulai dari penemuan (discovering), pengambilan (capturing), berbagi (sharing), hingga penerapan (applying) pengetahuan.

Ia menyoroti bahwa sebagian besar pengetahuan masyarakat, khususnya di komunitas adat, masih bersifat lisan dan tersebar sehingga rentan hilang. Di sisi lain, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) membuka peluang untuk mendokumentasikan dan mengelola pengetahuan tersebut secara lebih sistematis.

“Teknologi bukan untuk menggantikan manusia, tetapi untuk membantu. Yang utama tetap kualitas pengetahuan, validasi, serta tata kelola dan etika,” katanya.

Selain itu, diskusi juga menyoroti pentingnya kedaulatan data dalam pengelolaan pengetahuan lokal. Peserta menilai tidak semua pengetahuan dapat dibuka untuk publik, sehingga diperlukan mekanisme yang jelas terkait akses dan distribusi informasi guna mencegah eksploitasi terhadap komunitas pemilik pengetahuan.

Berbagai praktik lokal, seperti sistem pertanian tradisional, tata ruang berbasis adat, hingga mitigasi konflik satwa liar, dinilai sebagai bentuk pengetahuan tacit yang bernilai tinggi. Namun, tanpa pengelolaan yang baik, pengetahuan tersebut berisiko hilang seiring perubahan generasi.

Forum ini menegaskan bahwa integrasi antara teknologi, kelembagaan, dan nilai lokal menjadi kunci dalam membangun sistem pengetahuan yang berkelanjutan. CTSS IPB University mendorong kolaborasi lintas disiplin untuk memastikan pengetahuan lokal tidak hanya terdokumentasi, tetapi juga dimanfaatkan dalam pengambilan kebijakan berbasis data.

Share

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp