1st Graduate Student Monthly Sustainability Seminar “Whose Progress? Ethno Development in Papua”

The standard mode of living as the universal parameter of modern development demonstrates culturalism prone to westernization. AS a result, the marginalization of cultural factors hindering the traditional community to direct the progress independently. Such condition is against the SDG’s leaving no one behind that puts inclusion at the core of sustainability. The ethnographic data of Papua is displayed to illustrate the socioecological contex and the impact of non-inclusive development.
CTSS-GSMSs 1

– Graduate Student Monthly Seminar (GSMS) is conducted regularly by CTSS in collaboration with Bogor Science Club (BSC)

Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) di Papua telah menjadi perhatian bersama antara pemerintah, kalangan pendidik dan berbagai sektor lain. Hal ini disebabkan karena pembangunan SDM merupakan kunci bagi pembangunan di Papua. Sejatinya, pembangunan memerlukan strategi dan pendekatan khusus yang sesuai dengan konteks sosioekologis setempat. Saat ini ada kecenderungan bahwa standar cara hidup moderen sebagai parameter universal dari kemajuan menunjukkan adanya pengaruh budaya barat (westernisasi) yang masuk dalam kehidupan di Papua.. Akibatnya, terjadilah marjinalisasi unsur-unsur budaya yang menghambat masyarakat adat untuk mengarahkan kemajuan secara mandiri. Kondisi seperti itu bertentangan dengan motto SDG “leaving no one behind” yang menempatkan inklusi sebagai inti dari keberlanjutan. Data etnografi Papua ditampilkan untuk menggambarkan konteks sosioekologis serta dampak dari pembangunan yang tidak inklusif. Melalui pemaparannya pada kegiatan Graduate Student Monthly Sustainablity Seminar (GSMSS) yang diselenggarakan oleh Center for Transdisciplinary and Sustainable Science (CTSS) IPB University, (28/03/2019), Yulia Sugandi, PhD menjelaskan pentingnya memahami emik yakni perspektif dan praktik masyarakat setempat yang membentuk konstruksi sosial atas realitas. Pemahaman terhadap perspektif emik yang merupakan wujud inklusi sosial bertujuan untuk kesenjangan antara kebijakan dengan realitas masyarakat, serta menghasilkan perubahan sosial organik yang mengakar dalam masyakat. Diskursus antropologisasi pembangunan menegaskan bahwa pembangunan merupakan proses transformasi sosial politik serta sebagai arena negosiasi identitas sosial.

CTSS_1st_GSMS_01

Sebagai contoh, ada dua jalur pembentuk konsep kemajuan. Pilihan pertama menyandarkan pada value for money yakni pendekatan pembangunan yang berorientasi hasil serta mengikuti formal ekonomi yang menawarkan satu model universal. Pilihan kedua yakni pendekatan ethno development yang bukan instan, akan tetapi melalui proses penelitian tentang pengetahuan masyarakat adat guna membentuk model ekonomi berdasarkan konstruksi budaya setempat. Pilihan kedua ini mendekonstruksi relasi kuasa, menatap budaya secara reflektif serta menuntut adanya empati. Etnografi tentang pergulatan Hubula, masyarakat adat di lembah Palim- Papua dalam menghadapi proses perubahan sosial dipilih sebagai studi kasus. Pemahaman emik Hubula berpangkal dari kosmologi mereka yang, sebagaimana masyarakat Melanesia lainnya, berpusat pada pola relasi yang terbangun antara Hubula dengan segenap entitas dalam kompleksitasnya. Relasi antara Hubula dengan leluhur mereka adalah parameter budaya utama yang mendefinisikan lanskap di Lembah Palim termasuk clanscape, tanah, ritual dan entitas politik. Narasi tentang leluhur adalah representasi emik dari topografi Lembah Palim serta eko-kosmologi. Ekonomi adalah bagian kecil dari siklus berkelanjutan yang dilestarikan melalui ritual yang melibatkan obyek budaya (Hubula, tanah, babi dan petatas). Relasi yang tidak terpisahkan di antara keempat obyek budaya ini dalam kerangka keberlanjutan (sustainability) tersebut membentuk relasi identitas Hubula (stewardship) ketimbang relasi kepemilikan (ownership). Proses perubahan sosial di lembah Palim Papua memakan biaya kemanusiaan yang tinggi sebagai akibat benturan paradigma modern (pasar, gereja dan pemerintah) yang mengusung komodifikasi serta menglienasi realitas kosmologis Hubula. Penelitian Transdisipliner yang refleksif, berbasis empati, mengakui emik dan multiple realities, memegang peranan penting dalam mendukung kebijakan yang berbasis bukti (evidence based policy) serta perubahan sosial organik dan berkelanjutan.

Pemapar : Yulia Sugandi, PhD (Educator and Researcher)

Materi : Unduh disini

Share

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.