The 4th Transdisciplinary Tea Talk “Internalisasi Sustainable Development Goal’s (SDGs) di Perguruan Tinggi”

Secara aplikatif, konsep SDGs dapat diterapkan oleh mahasiswa melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilakukan di tingkat masyarakat tapak. Tidak hanya itu, konsep SGDs tersebut juga dapat dikenalkan melalui seminar seris bagi mahasiswa dan akademisi.
CTSS_4th_Tea Talk

Upaya pencapaian pilar Sustainable Development Goals (SDGs) harus mendapat dukungan dari berbagai pihak salah satunya adalah perguruan tinggi. Sejatinya kualitas pendidikan tinggi di Indonesia saat ini terbilang cukup baik, terbukti dengan banyaknya prestasi yang mampu bersaing di tingkat internasional. Namun, hal yang disayangkan adalah kurang meratanya kualitas tersebut di seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Padahal, perguruan tinggi sangat berperan dalam pencapaian SDGs dan harus menjadi pusat unggulan (center of excelent) di bidang keilmuan sesuai dengan kempetensi intinya (core competence) dan mengarusutamakan SDGs dalam proses pendidikan atau pengajarannya.

Sebagai upaya internalisasi SDGs di tingkat perguruan tinggi, Ansye Sopacua PhD dari UNDP Indonesia menerangkan konsep SDGs dapat dikenalkan kepada mahasiswa sejak masa orientasi mahasiswa baru. Ia juga menyarankan konsep SDGs dapat dimasukkan ke dalam kurikulum dengan subjek sustainability sehingga terdapat kredit pembelajaran yang bisa dicapai oleh mahasiswa. Konsep SDGs dapat diintegrasikan dengan MKDU sehingga terdapat indikator, target serta tujuan SDGs yang dapat dicapai secara khusus dalam kurikulum perguruan tinggi. Secara aplikatif, konsep SDGs dapat diterapkan oleh mahasiswa melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilakukan di tingkat masyarakat tapak. Tidak hanya itu, konsep SGDs tersebut juga dapat dikenalkan melalui seminar seris bagi mahasiswa dan akademisi.

Sementara, Prof Damayanti Buchori, Direktur CTSS IPB University pada kegiatan Transdisciplinary Tea Talk Seri ke-4 menerangkan perlu adanya pendekatan khusus dalam mengintegrasikan konsep SDGs ke dalam kurikulum pendidikan tinggi. Hal ini karena sistem pendidikan tinggi di Indonesia menganut dua sistem pengetahuan yang berbeda yaitu indigenous knowledge dan western scientific knowledge.

Materi:

Share

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.