The 8th Transdisciplinary Tea Talk “Evolutionary Interaction: A Journey to Diversity and Life”

A VPN is an essential component of IT security, whether you’re just starting a business or are already up and running. Most business interactions and transactions happen online and VPN

Center for Transdisciplinary and Sustainability Science, Lembaga Penerlitian dan Pengabdian Masyarakat (CTSS LPPM) IPB University kembali mengadakan diskusi Transdisciplinary Tea Talk, (28/7). Pada Seri ke delapan ini, materi yang dibahas adalah evolusi dan interaksinya dalam kehidupan dengan menghadirkan Prof Antonius Suwanto dan Prof Damayanti Buchori.

Dalam pemaparannya, Prof Antonius Suwanto, Guru Besar IPB University bidang Mikrobiologi dan Genetika Molekuler menyampaikan fenomena evolusi kehidupan telah terjadi paling tidak sekitar 3,5 milyar tahun yang lalu. Bumi terbentuk sekitar 4.5 miliar tahun yang lalu. Salah satu organisme yang telah mengawali evolusi adalah bakteri.

“Revolusi besar di bumi terjadi ketika elektron diambil dari air, karena muncul limbah besar-besaran di bumi, yaitu oksigen molekuler yang “mencemari bumi” yang anaerob. Itu sebabnya kita ini masih perlu antioksidan karena oksigen ini juga memiliki efek yang tidak baik sebagai “limbah” dari hasil pengambilan elektron dari molekul air,” terang Prof Antonius.

Karena ada oksigen, lanjutnya, makhluk hidup harus beradaptasi dan banyak juga yang mati akibat terkena oksigen karena bumi pertama kali terbentuk tidak ada oksigen sama sekali. Untuk itu banyak organisme yang berevolusi dan menyesuaikan diri dengan kondisi bumi yang penuh dengan oksigen. Sejumlah organisme, termasuk manusia, justru mampu menggunakan oksigen sebagai bagian dari usaha memperoleh energinya dan sangat sukses. Hasil energinya jauh lebih efisien daripada fermentasi atau respirasi anaerobik.

CTSS_8th_Tea Talk_01

“Bumi ini, hampir seluruh sejarahnya itu, yang hidup itu mikroorganisme, makanya kita tidak perlu heran ketika ada mikroorganisme seperti virus dan bakteri membuat kita bisa hidup bugar, atau sebaliknya malah membuat kita tidak berdaya seperti COVID-19,” tambahnya.

Sementara, di tubuh manusia sendiri, memiliki 10 triliun sel dengan ratusan ragam yang saling melengkapi satu sama lain. Bahkan, di permukaan kulit manusia terdapat sel-sel bakteri yang hidup secara normal dan bisa melindungi kulit dari bakteri lain yang bersifat pathogen terhadap manusia. Ragam hidup itu membentuk jejaring yang saling melengkapi. Tidak ada yang superior atau inferior.

Interaksi evolusi terjadi antara berbagai organisme di bumi. Ada interaksi yang saling menguntungkan (mutualisme) dan ada yg merugikan (parasitisme).

Interaksi mutualisme misalnya terjadi pada tanaman Ficus dengan serangga penyerbuknya, dimana telah terjadi koevolusi yang sangat erat antara keduanya. Simbiosis mutualisme juga terjadi antara Polydna virus (PDV) yang merupakan endosimbion pada serangga-serangga parasitoid (wasp). Keberadaan PDV dapat membantu parasitoid mengalahkan mekanisme pertahanan selular dari hama-hama ulat yg diserang oleh parasitoid. Keberadaan virus PDV ini justru mwmbantu parasitoid untuk dapat bertahan dan berhasil hidup dengan baik di tubuh inangnya yaitu ulat. Tanpa ada PDV, serangga parsaitoid ini sudah mati kareba kalah bertarung melawan sistem pertahanan tubuh inangnya.

Prof Damayanti Buchori, Guru Besar IPB University bidang Entomologi juga mencontohkan interaksi antara virus myxoma dengan kelinci yang menyebabkan munculnya “pandemi” pada populasi kelinci. Virus myxoma adalah patogen yang sangat virulen bagi kelinci dan sengaja diintroduksi ke Australia untuk mengstasi masalah peningkatan populasi kelinci yg menjadi hama di negara tersebut.

Jika dilihat di dalam kehidupan, lanjut Prof Damayanti, interaksi mutualisme atau parasitisme ini sebenarnya adalah sebuah continuum saja. Evolusi dan seleksi alam dapat mengggerakkan interaksi pada trajectory yang berbeda, tergantung faktor-faktor yang berperan. Dalam konteks ini, perlu melihat bahwa virus dan mikroba masing-masing telah berevolusi hingga posisinya pada saat ini adalah dengan tujuan untuk bertahan hidup (survival).

“Di dalam proses kehidupan itu kita saling berinteraksi, suatu saat merugikan tetapi saat lain, pelan-pelan bisa berubah menjadi hubungan mutualis. Jadi proses simbiosis parasitisme menjadi mutualisme itu merupakan suatu proses evolusi. Proses evolusi ini merupakan perjalanan panjang yang menghasilkan dinamika dalam kehidupan ini,” tambah Prof Damayanti.

Lebih lanjut ia menerangkan, persoalan interaksi ini bukan masalah jahat atau tidak jahat, tetapi masalah memahami alam, survival dan interaksi di dalamnya. Di alam, evolusi akan terus terjadi dan sudah menjadi keniscayaan, hal ini karena evolusi adalah proses-proses dan perjalanan yang membentuk dinamika dalam kehidupan.

“Dari evolusi, kita paham bahwa dalam kehidupan ini kita tidak sendirian, jadi kita hidup berdampingan, saling tergantung dan saling bekerjasama sehingga menjadi sebuah wisdom di alam,” pungkas Prof Damayanti.

Materi:

Share

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *