The 18th Transdisciplinary Tea Talk “Dialektika Pengetahuan Lokal dan Ilmiah dalam Pengelolaan Lingkungan: Mungkinkah tanpa Transdisiplin?”

Pendekatan transdisiplin berusaha menciptakan suatu kesatuan kerangka intelektual melampaui perspektif disiplin ilmu tertentu. Dari pendekatan ini, mampu menyajikan kemungkinan terwujudnya dialektika pengetahuan lokal dan ilmiah, sehingga dapat membangun kerangka intelektual yang baru dalam diri yang tidak sama seutuhnya dengan kerangka intelektual diri dalam disiplin ilmu tertentu.

Transdisciplinary Tea Talk ke-18 CTSS IPB University Bahas Dialektika Pengetahuan Lokal dan Ilmiah dalam Pengelolaan Lingkungan

Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University kembali menggelar Transdisciplinary Tea Talk, 18/11. Seri diskusi kali ini membahas tentang Dialektika Pengetahuan Lokal dan Ilmiah dalam Pengelolaan Lingkungan.

Profesor Damayanti Buchori, Kepala CTSS IPB University menerangkan, diskusi ini menjadi ajang untuk berpikir tentang transdisiplin. Menurutnya, transdisiplin merupakan sebuah pendekatan dalam mencari solusi dari permasalahan yang terjadi saat ini.

“Kami mengatakan bahwa salah satu karakter dari transdisiplin adalah adanya perkawinan antara pengetahuan lokal dengan modern sciences,” terang Prof Damayanti Buchori, pakar ekologi serangga dari IPB University.

Lebih lanjut, dosen IPB University itu menerangkan, diskusi ini juga merupakan learning process dari berbagai pihak. Tidak hanya itu, seri diskusi ini juga menjadi wahana saling belajar transdisiplin.

“Kami mengharapkan, pemahaman tentang transdisiplin ini semakin kaya dengan tambahan-tambahan pengetahuan dari narasumber,” pungkas Prof Damayanti Buchori.

Dalam seri diskusi kali ini, turut mengundang Prof Yunita T Winarto, antropolog dari Universitas Indonesia. Pada pemaparannya, ia berbagi pengalaman tentang pendekatan transdisiplin dalam pengelolaan lingkungan. Secara khusus, ia membahas pendekatan transdisiplin pada sektor pertanian. Ia menyebut, sebelum melakukan konsep transdisiplin, para ilmuwan harus ada pendekatan antar disiplin.

Prof Yunita menjelaskan, pendekatan transdisiplin berusaha menciptakan suatu kesatuan kerangka intekektual melampaui perspektif disiplin ilmu tertentu. “Dari pendekatan ini, mampu menyajikan kemungkinan terwujudnya dialektika pengetahuan likal dan ilmiah, sehingga dapat membangun kerangka intelektual yang baru dalam diri liyan yang tidak sama seutuhnya dengan kerangka intelektual diri dalam disiplin ilmu tertentu,” terang Prof Yunita.

Prof Yunita mencontohkan, dalam bertani, tidak hanya ilmu pertanian saja yang perlu dipahami, melainkan memerlukan ilmu agroklimatologi maupun ilmu lain yang berkaitan. Oleh karena itu, katanya, perlu dikembangkan komitmen edukasi berkelanjutan bagi petani untuk belajar agrometeologori melalui pendekatan antar dan transdisiplin dengan memperkaya ilmu titen dengan ilmu sakti.

Ilmu titen ini, kata Prof Yunita, merupakan “Ilmu” yang terakumulasi dari pengalaman warga lokal antargenerasi turun-temurun berdasarkan pengamatan yang cermat dan rinci atas kondisi ekosistem lingkungan tempat mereka mengelola habitatnya. Terakumulasi di sini melalui inderawi dan pengalaman yang bermakna dan penting secara budaya.

Ia juga menerangkan, “Warung ilmiah lapangan atau arena belajar agrometeorologi ini menjadikan petani sebagai peneliti atau ilmuwan di lahannya sendiri dan berdaulat memutuskan strategi tanggap perubahan dan variabilitas iklim,” tambah Prof Yunita.

Ia menegaskan, upaya ini merupakan upaya untuk memperkaya cara belajar dan analisis petani, bukan introduksi teknologi dan strategi budidaya secara sepihak. “Sangat disayangkan ketika revolusi hijau saat itu bisa meningkatkan produksi pertanian, tetapi justru lingkungannya menjadi rusak,” tambahnya.

Belum lama ini, katanya, petani juga dihadapkan dengan kebijakan pemerintah yang meminta bertani padi tiga kali dalam setahun. Namun demikian, petani sempat menolaknya karena khawatir terjadi ledakan serangan hama.

“Ternyata benar, ketika petani menanam padi secara terus menerus, terjadi serangan wereng besar-besaran yang menyebabkan gagal panen dan kerugian bagi petani,” tambah Prof Yunita.

Dengan adanya fenomena tersebut, Prof Yunita menegaskan untuk bertani, supaya memperkaya ilmu titen dengan ilmu sakti melalui pendekatan antar dan transdisiplin berdasarkan komitmen edukasi berkelanjutan dan penguatan keyakinan dan jati diri pelaku ilmu titen.

Keyword: transdisiplin, pertanian, transdisiplin untuk pertanian, revolusi hijau
Kategori: SDGs-4, SDGs-15
Materi : Dialektika Pengetahuan Lokal dan Ilmiah dalam Pengelolaan Lingkungan

Youtube :

Share

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.