CTSS IPB University Gelar Diskusi “Insect Symbionts”: Membuka Potensi Serangga bagi Pertanian dan Kesehatan Masa Depan

Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University kembali menyelenggarakan forum diskusi ilmiah bertajuk Transdisciplinary Talk (TTT) ke-27 dengan tema “Insect Symbionts: Not Just Zombie Alterers”. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Warsito Tantowijoyo, ahli entomologi yang telah berkiprah di berbagai institusi internasional, sebagai narasumber utama.

Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University kembali menyelenggarakan forum diskusi ilmiah bertajuk Transdisciplinary Talk (TTT) ke-27 dengan tema “Insect Symbionts: Not Just Zombie Alterers”. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Warsito Tantowijoyo, ahli entomologi yang telah berkiprah di berbagai institusi internasional, sebagai narasumber utama.

Direktur CTSS IPB University, Prof. Damayanti Buchori, dalam pembukaan menyampaikan bahwa diskusi ini merupakan bagian dari upaya memperluas perspektif keberlanjutan, khususnya dalam sektor pertanian. Ia menekankan bahwa serangga selama ini kerap dipandang negatif, padahal memiliki potensi besar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan.

“Serangga adalah spesies yang sering kurang diapresiasi. Padahal, manfaatnya jauh lebih besar dibandingkan dampak negatifnya. Melalui diskusi ini, kita ingin membuka wawasan tentang potensi tersebut,” ujarnya.

Mengungkap Dunia Tersembunyi Simbion Serangga

Dalam paparannya, Dr. Warsito menjelaskan bahwa simbion—mikroorganisme yang hidup berasosiasi dengan serangga—memiliki peran penting dalam berbagai aspek kehidupan inang, mulai dari nutrisi, perlindungan terhadap patogen, hingga adaptasi terhadap lingkungan ekstrem.

Ia mengawali penjelasan dengan fenomena “semut zombie” yang dikendalikan oleh jamur Ophiocordyceps. Meski terdengar menyeramkan, fenomena ini justru menjadi pintu masuk untuk memahami hubungan kompleks antara serangga dan mikroorganisme.

“Selama ini kita melihat simbion hanya dari sisi negatif atau yang ‘menyeramkan’. Padahal, di balik itu ada potensi besar yang bisa dimanfaatkan untuk masa depan pertanian dan kesehatan,” jelasnya.

Potensi Besar untuk Pertanian dan Kesehatan

Lebih lanjut, Dr. Warsito menguraikan bahwa simbion serangga dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang, antara lain:

  • Pengendalian hama (pest control) secara biologis
  • Pengendalian patogen pada serangga vektor penyakit
  • Produksi senyawa antimikroba dan antibiotik baru
  • Bioteknologi dan bioremediasi lingkungan

Ia juga menyoroti peran simbion dalam meningkatkan ketahanan serangga terhadap kondisi ekstrem, serta kemampuannya dalam membantu metabolisme nutrisi yang tidak tersedia dari sumber makanan utama.

Wolbachia dan Terobosan Pengendalian DBD

Salah satu contoh nyata pemanfaatan simbion adalah penggunaan bakteri Wolbachia dalam pengendalian demam berdarah dengue (DBD). Bakteri ini mampu menghambat replikasi virus dengue di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti, sehingga menurunkan kemampuan nyamuk dalam menularkan penyakit.

Program berbasis Wolbachia yang telah diuji di Yogyakarta menunjukkan hasil signifikan, dengan penurunan kasus DBD hingga 77% dan penurunan rawat inap hingga 86%.

“Ini contoh bagaimana riset dasar tentang simbion bisa berkembang menjadi solusi nyata bagi masyarakat,” ungkap Dr. Warsito.

Tantangan dan Peluang Riset ke Depan

Meski potensinya besar, eksplorasi simbion masih tergolong terbatas. Diperkirakan baru sekitar 10% simbion serangga yang telah diteliti secara mendalam. Hal ini membuka peluang luas bagi penelitian interdisipliner, khususnya di bidang bioteknologi, mikrobiologi, dan ilmu pertanian.

Diskusi juga menyoroti pentingnya kehati-hatian dalam pengembangan teknologi berbasis simbion, termasuk aspek keberlanjutan, keanekaragaman hayati, serta penerimaan masyarakat.

Mendorong Kolaborasi Transdisipliner

Forum ini diharapkan dapat mendorong kolaborasi lintas disiplin dalam mengeksplorasi potensi simbion serangga. CTSS IPB University menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan diskusi ilmiah yang relevan dengan tantangan global, khususnya dalam bidang keberlanjutan dan sistem pangan.

“Ini adalah bidang riset masa depan. Kita perlu mulai mengarah ke sana, tidak hanya memahami, tetapi juga memanfaatkan secara bijak,” tutup Prof. Damayanti.

Share

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp