The 5th Transdisciplinary Tea Talk “Sharing Experiences: Rimbang Baling in the Perspective of Sustainable Landscape Management”

Ada pula semacam kekhawatiran melihat perkembangan manusia; dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, maka justru menyebabkan rusaknya hubungan dengan alam. Budaya lokal seperti di Rimbang Baling justru diabaikan. Dalam konteks ini, maka pendekatan transdisiplin dan sustainability menjadi sangat diperlukan.

Pada tanggal 17 Desember 2019 CTSS mengadakan acara rutin yaitu Transdisiplinary Tea Talk atau yang biasa dikenal dengan TTT. Kegiatan TTT ke 5 ini dimoderatori oleh pa Akbar Digdo, diawali dengan presentasi oleh pihak pengelola Rimbang Baling, yaitu pertama Pak Sunarto dan yang kedua Pak Agustinus Wijayanto. Judul materi yang disampaikan oleh pa Sunarto adalah: Rimbang Baling, From Science to Movement at Landscape Scale. Fokus uraian yang disampaikan adalah pentingnya menjaga kelestarian harimau di dalam kawasan atau landskap Rimbang Baling. Upaya pelestarian ekosistem harimau ini dilakukan dengan melibatkan atau kolaborasi multi-pihak, baik Pemerintah, LSM, maupun masyarakat lokal. Dari kegiatan konservasi di Rimbang Baling ini ada lima belas lesson learnt yang dikemukakan, yakni:pertama, dengarkan suara para pihak; kedua, monitor target; ketiga, integrasikan upaya perlindungan; keempat, dukung inovasi tim; kelima, temukan alternative solusi; keenam, terapkan teknologi yang pas; ketujuh, temukan “local champions”; kedelapan, olah potensi jadi komoditi; kesembilan, kaji dan mitigasi konflik satwa secara holistic; kesepuluh, perkuat peran sector bisnis; kesebelas, ajak dan dukung kampus; keduabelas, ajak dan dukung anak muda; ketiga belas libatkan para tokoh; keempat belas, kelola dan bagikan pengetahuan; dan yang kelima belas, rayakan keberhasilan dan petik pembelajaran.

CTSS_5th_Tea Talk_01
Pak Sunarto, pemapar pertama, dalam Transdisiplinary Tea Talk ke-5

 

Sementara itu, pada presentasi kedua, focus uraian yang disampaikan oleh Pak Agustinus Wijayanto adalah pada kehidupan masyarakat local yang ada di kawasan Rimbang Baling. Judul materi yang disampaikan adalah: Community and Sustainable Landscape Management in Rimbang Baling WR. Uraian diawali dengan pentingnya kawasan Rimbang Baling, kemudian dilanjutkan dengan sejarah komunitas Rimbang Baling. Dijelaskan bahwa komunitas Rimbang Baling tercatat dalam sejarah sejak tahun 1200 AD. Selanjutnya dijelaskan hubungan manusia dengan alamnya di kawasan Rimbang Baling ini. Penduduk asli Rimbang Baling ini mengenal system klan dan system khalifah. Sebagai contoh, di dalam kawasan Rimbang Baling ini setidaknya ada tiga khalifah yang masih berfungsi, yaitu khalifah Batu Sanggan, khalifah Ludai, dan khalifah Ujung Bukit.

CTSS_5th_Tea Talk_02
Pak Agustinus Wijayanto, pemapar kedua, dalam Transdisiplinary Tea Talk ke-5

 

Dalam system adat kekhalifahan ini, dikenal jabatan tertentu yang bertugas untuk mengelola sumberdaya alam; misalnya Datuk Singo berperan mengurusi hutan, Datuk Godang bertugas mengurusi sumberdaya sungai/air, dan Datuk Majo mengurusi kawasan budidaya. Masyarakat lokal mengenal system lubuk larangan dalam pengelolaan sumberdaya air/perikanan di sungai, sementara untuk kawasan hutan juga dikenal adanya hutan larangan. Dalam kaitan dengan konservasi harimau, masyarakat adat di Rimbang Baling ini menganggap bahwa harimau itu merupakan penjaga bahkan nenek moyang mereka. Jika mereka tidak mengganggu harimau, maka harimaupun tidak akan mengganggu mereka. Selanjutnya, mereka percaya bahwa harimau akan memberikan “peringatan” jika ada sesuatu yang “tidak beres” di desa.

Setelah presentasi, sesi berikutnya adalah diskusi. Diskusi berjalan dengan baik dan banyak isu penting yang didiskusikan. Salah satu isu penting yang diangkat oleh peserta adalah di daerah tertentu, masih sulit menyadarkan masyarakat untuk melakukan konservasi; mereka masih mengutamakan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Berkaitan dengan itu, pengalaman di Rimbang Baling, upaya pelestarian antara lain dilakukan dengan mengembangkan alternative kegiatan atau penghidupan yang tidak merusak alam. Dijelaskan juga oleh Pak Sunarto bahwa kegiatan yang mereka lalukan di Rimbang Baling ini terkadang terasa seperti menggarami air laut. Yang dilakukan ini masih sangat kecil; namun yang penting ada knowledge yang bisa diambil dari kegiatan ini. Pak Agustinus juga menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi luar biasa. Diperlukan pendekatan yang cukup panjang sebelum bisa memulai suatu program yang sesungguhnya.

Ada pula semacam kekhawatiran melihat perkembangan manusia; dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, maka justru menyebabkan rusaknya hubungan dengan alam. Budaya lokal seperti di Rimbang Baling justru diabaikan. Dalam konteks ini, maka pendekatan transdisiplin dan sustainability menjadi sangat diperlukan. Maka, pengalaman dari lapangan seperti yang dimiliki oleh WWF dan Yapeka dalam mengelola kawasan Rimbang Baling ini menjadi penting.

Pada bagian akhir diskusi ini dijelaskan bahwa CTSS merupakan wadah untuk berkolaborasi dalam upaya-upaya untuk membangun kesadaran baru untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik; ada keseimbangan antara sustainability ekologis dan kesejahteraan manusia. Para mahasiswa dan para aktivis lingkungan diundang untuk berkolaborasi dalam wadah CTSS.

Materi: Unduh Disini

Share

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.