The 16th Transdisciplinary Tea Talk “Kesejahteraan: Ekonomi Vs Lingkungan”

A VPN is an essential component of IT security, whether you’re just starting a business or are already up and running. Most business interactions and transactions happen online and VPN
CTSS-Feature Image Post_Tea Talk_776x400px (3)

Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University kembali mengadakan Trandsiciplinary Tea Talk, (27/9). Seri diskusi kali ini menghadirkan Dr Harianto, dosen IPB University dari Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen.

Profesor Damayanti Buchori, Kepala CTSS IPB University menjelaskan, pihaknya menggelar diskusi rutin setiap bulan yang dikemas dalam Transdisciplinary Tea Talk, Graduated Student Monthly Seminar on Sustainability dan Afternoon Discussion on Redisigning the Future.

“Diskusi kali ini kita akan membahas tentang ekonomi dan lingkungan, karena memang ekonomi dan ekologi (lingkungan) ini sering kali dipertentangkan, padahal kan bisa berjalan bersama-sama,” ujar Prof Damayanti Buchori.

CTSS

Dalam pemaparannya, Dr Harianto mendefinisikan ekonomi sebagai perekonomian sedangkan ekologi sebagai sumberdaya alam dan lingkungan, bukan ekonomi dan ekologi sebagai ilmu. Karena ekonomi dan ekologi sebagai disiplin keilmuan, tentunya memiliki kegunaan dan aspek bahasan yang bisa saling melengkapi. “Sebaliknya aktivitas perekonomian yang tidak terkendali bisa mengancam keberlanjutan sumberdaya alam” ujar Dr Harianto, Fellowa CTSS IPB University.

Dosen IPB University itu pun menyebut, aktivitas manusia bisa membawa dampak negatif terhadap lingkungan. Bahkan, bisa membawa dampak buruk terhadap manusia kembali.

Lebih lanjut, ia menerangkan, teori barang dan jasa dalam ilmu ekonomi menyampaikan bahwa kebutuhan manusia pada dasarnya tidak terbatas. Sedangkan, sumberdaya alam untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia justru terbatas. Hal ini mengakibatkan terjadinya kelangkaan dan manusia harus membuat pilihan-pilihan. Sebagaimana kerusakan ataukah kelestarian sumberdaya alam adalah juga pilihan.

“Setiap pilihan yang diambil selalu akan memunculkan biaya. Jika manusia memilih eksploitasi sumberdaya alam yang berlebihan, maka biayanya adalah berupa kapasitas natural life support system dalam menghasilkan barang dan jasa lingkungan yang semakin berkurang. Tidak ada yang gratis ,” tambahnya.

Ia mencontohkan, batu bara yang diambil di area hutan yang kaya bio-diversitas, biayanya adalah barang dan jasa yang dapat dihasilkan hutan. Namun karena sifat barang dan jasa yang dihasilkan hutan tersebut sebagian besarnya berupa public goods, akibatnya menambang batu bara yang menjadi pilihan.

CTSS

Pada kesempatan ini, Dr Harianto juga menyinggung perilaku pasar. Menurutnya, pasar yang efisien tidak menjamin tidak ada kemiskinan dan ketimpangan sosial maupun scarcity rent, terutama bagi industri yang berbasis pada sumber daya alam.

Dr Harianto juga menjelaskan, untuk mengurangi kegagalan pasar, diperlukan intervensi kebijakan publik yang tepat, inovasi kelembagaan dan moralsuasion.

“Sistem ekonomi yang diterapkan saat ini sangat bergantung pada life support system seperti lingkungan maupun sumber daya alam, yang sifatnya terbatas itu,” kata Dr Harianto.

Ia pun menyarankan supaya pencapaian kesejahteraan rakyat (well being of the people) yang dijadikan sebagai patokan arah pilihan-pilihan perekonomian. “Alokasi optimal penggunaan sumberdaya alam memerlukan pendekatan transdisiplin,” pungkasnya.

Keyword: CTSS IPB, ekonomi versus ekologi, dosen IPB

Kategori: SDGs-4, SDGs-8

Materi presentasi : Kesejahteraan – Ekonomi vs Lingkungan

Youtube :

Share

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.