The 7th Transdisciplinary Tea Talk “Pandemi COVID-19 dan Ekonomi Politik Pangan”

Munculnya pandemi saat ini kemungkinan terkait dengan sistem pangan global . Hal ini terjadi karena sistem pangan global umunya dilakukan secara monokultur, rantai pasok yang panjang, akses pangan yang tidak merata, tingginya angka deforestrasi, permasalahan kekeringan dan perubahan iklim.
CTSS_7th_Tea Talk

Isu pangan merupakan isu yang terus menjadi sorotan bagi berbagai pihak di belahan dunia. Oleh karena itu, Center for Transdisciplinary and Sustainability Science, (CTSS) IPB University mengadakan Transdisciplinary Tea Talk. Serial diskusi kali ini menghadirkan pembicara untuk membahas ekonomi dan politik pangan di Indonesia, (25/6). Pembicara yang diundang adalah Laksmi Adriani Savitri, Ketua Dewan Nasional Food Information and Action Network Indonesia (FIAN).

CTSS_7th_Tea Talk_01

Kepala CTSS LPPM IPB University, Prof Damayanti Buchori menerangkan CTSS merupakan pusat kajian yang didirikan sebagai tempat untuk membangun diskursus baru maupun kegiatan diskusi-diskusi secara transdisiplin. Dalam konteks tersebut, CTSS mengadakan Transdisciplinary Tea Talk secara rutin setiap bulannya. “Di acara ini kami berusaha mengundang pembicara dari berbagai sektor guna membangun dialog bersama-sama. Ini merupakan wadah diskusi dua arah, jadi tujuannya adalah betul-betul belajar dan mendengarkan untuk membangun new knowledge,” paparnya.

Pada kesempatan ini, Laksmi Savitri menjelaskan saat ini semua pihak sedang menghadapi globalisasi sistem pangan yang dipengaruhi oleh ide productionism, regional specialization, trade liberalisation, vertical integration, dan vertical concentration. Ia menyampaikan salah satu konsep yang bisa membaca kondisi pangan Indonesia adalah konsep rezim pangan internasional. Konsep sistem tersebut merupakan sistem relasi, aturan, dan praktik yang membentuk stuktur pembagian kerja internasional dan perdagangan pertanian dalam kapitalisme dunia sejak 1870-an.

Lebih lanjut ia menerangkan, munculnya pandemi saat ini kemungkinan terkait dengan sistem pangan global . Hal ini terjadi karena sistem pangan global umunya dilakukan secara monokultur, rantai pasok yang panjang, akses pangan yang tidak merata, tingginya angka deforestrasi, permasalahan kekeringan dan perubahan iklim.

“Lockdown dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mengakibatkan jalur logistik dengan rantai pasok yang panjang itu itu tidak memungkinkan untuk terus bisa menjaga suplai pangan. Padahal di satu sisi ketika lockdown, para pencari sumber pangan itu beralih ke pangan berkemas dalam kaleng terutama sayuran, daging dan ikan,” tambahnya.

CTSS_7th_Tea Talk_02

Sehingga pada saat yang sama, lanjut Laksmi, ada tekanan demand terhadap high value food dan process food tersebut akibat putusnya rantai pasok pangan di seluruh dunia. Di sisi lain, tidak terserapnya produk pertanian dari petani menyebabkan harga produk tersebut jatuh dan berpotensi merugikan petani. Putusnya rantai pasok ini berpotensi munculnya pandemi kelaparan di seluruh dunia.

Di Indonesia sendiri, kasus kelaparan ini perlu perhatian serius karena berdasarkan laporan Global Hunger Index tahun 2018, persoalan kelaparan di Indonesia berada pada peringkat 73 di dunia dengan skor 21,9 atau berada pada level yang serius. Bahkan di Asia Tenggara, skor Indonesia hanya lebih baik dari Kamboja dan Laos. Kelaparan tersebut dihitung bukan hanya angka kematian maupun kekurangan makanan saja, tetapi juga termasuk kekurangan nutrisi.

Di samping itu, anomali ekspor dan impor pangan turut menjadi persoalan pangan global saat ini. Pasalnya produk pangan banyak yang tidak terserap maksimal akibat putusnya rantai pasok global. [RA]

Materi: Unduh Disini

Share

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.