The 14th Transdisciplinary Tea Talk “Power of Community: Through The Heart, Mind, & Soul toward Smallholder Livelihood in Eastern Indonesia”

Heart, Mind, and Soul yang diinterpretasi berdasarkan pemikiran seorang Islamic Thinker Al Ghazali, bahwasannya akal dan hati tidak terpisahkan, hakikatnya menyatu (connected). Akal dan hati yang sejatinya menunjukkan jalan kebenaran pada manusia. Berangkat dari pandangannya tentang jiwa (nafs) yang menjadi sumber dimensi psikis manusia yang mempengaruhi akal (aqli) dan hati (qalbu).

Judul materi padaTrandisciplinary Tea Talk ke – 14 kali ini adalah ”Power of Community: Through the Heart, Mind, & Soul toward Smallholder Livelihood in Eastern Indonesia” yang diselenggarakan oleh Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS), IPB University (22/7) dengan menghadirkan Dr. Teuku Fajar Shadiq (Assistant Professor of Management di Universitas Islam Syekh-Yusuf/UNIS dan CTSS Fellow) sebagai pembicara serta Prof. Husin Alatas  (Professor of Theoretical Physics di IPB University & Executive Secretary CTSS) sebagai moderator.

 

Heart, Mind, and Soul yang diinterpretasi berdasarkan pemikiran seorang Islamic Thinker Al Ghazali, bahwasannya akal dan hati tidak terpisahkan, hakikatnya menyatu (connected). Akal dan hati yang sejatinya menunjukkan jalan kebenaran pada manusia. Berangkat dari pandangannya tentang jiwa (nafs) yang menjadi sumber dimensi psikis manusia yang mempengaruhi akal (aqli) dan hati (qalbu).

Isi materi paparan dengan judul “Power of Community: Through the Heart, Mind, & Soul toward Smallholder Livelihood in Eastern Indonesia”, merupakan courtesy perjalanan program Community Development di empat provinsi di Indonesia Timur berbasis Agricultural_dan Maritime pada 24 kabupaten kota dan hampir 50.000 KK (households) sebagai targetted beneficieries (penerima manfaat), dalam upaya kemampuan pengelolaan SDA (sumber daya alam) yang mendorong peningkatan produktivitas masyarakat melalui hasil usahanya. Dukungan sumber daya pertanian yang besar merupakan keunggulan komparatif (comparative advantage) yang semestinya mampu menggerakan industri pengolahan melalui “Smelter Usaha Produktif”. Mengutip sebuah buku yang di tulis oleh EF Sumacher (1973) berjudul Small is Beautiful: A Study of Economics as If People Mattered, dimana hari ini wilayah desa belum mampu mengurangi kemiskinan dalam “value dan cultural”, misal defisit kerjasama produktif, serta terjadi kemiskinan struktural dan kultural, banyak sekali terjadi urbanisasi terpaksa sehingga desa banyak kehilangan man-power.

Diperkirakan tidak lebih 10% dari total jumlah 514 Kabupaten/Kota di Indonesia yang memiliki kesempatan diintervensi program semacam ini, program pemerintah pusat dengan sumber pembiayaan pinjaman dan skala intervensi seukuran dua kegiatan yang dilaksanakan oleh Kementerian Pertanian dan Kementerian Desa. Kita tidak berharap, program-program yang telah dirancang dengan disain kerangka fikir logis yang demikian bagus namun pada tataran implementasinya hanya mampu menghasilkan sebuah fenomena habis pakai (consumables), dampak dari pola penangan dan implementasinya tidak optimal diperlakukan (treatment) business as usual, berjalan tidak terintegrasi antar counterpart, sehingga hal kemarin menjadikan pembelajaran baik bagi kita semua dan pada akhirnya model rancangan dan strategi program pengembangan komunitas desa yang jauh lebih baik yang menghasilkan efek menetes (trickle down effect).

Dari pemaparan materinya, Dr Teuku Fajar Shadiq menyatakan berdasarkan pengalamannya selama ini, bahwa di dalam pemberdayaan masyarakat perlu memperhatikan farmers management cycle, di mulai dari pola pembentukan kelompok yang awalnya merupakan petani yang tadinya bekerja secara individu kemudian disatukan di dalam kelompok serta kemudian memperoleh pelatihan kelembagaan, pola produksi dan pengelolaan keuangan, akses pemasaran, serta diberikan matching dan revolving funds dari pemerintah sebagai pengelola kegiatan.

Kelompok tani yang telah dibina akan menghasilkan produk. Produk pertanian maupun produk lainnya akan dijual ke pasar, di sini peran pemerintah juga harus kuat untuk menstabilkan harga pasar serta melindungi harga di tingkat petani agar tidak anjlok akibat banjir barang/panen raya. Hasil penjualan produk tadi dikelola oleh kelompok melalui koperasi atau sejenisnya dan membagikan laba dari penjualan kepada anggota kelompok/petani.

Pada prakteknya di lapangan, tidaklah semudah yang dibayangkan. Program-program community empowerment yang ada di masyarakat juga harus memperhatikan beberapa kendala yang memungkinkan juga akan terjadi seperti kendala spasial, intensitas fasilitasi serta pendampingan yang ada dimasyarakat, integrated & collaborated. Antar lini regulator terkait domain sector, kepercayaan (religions), ada beberapa wilayah yang memiliki keyakinan bahwa kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. Karakter di beberapa wilayah kebanyakan masyarakat lokal tidak mau ambil pusing, sehingga ini membuka peluang bagi etnis lain untuk mengambil peluang usaha ini. Economic traditional rules, di mana masyarakat menjual bahan baku kepada perantara (pengepul), kesulitan akses dan kemudahan mendapatkan uang menjadi salah satu alasan mengapa mereka menjual kepada perantara. Terakhir, understanding of conceptual design. Jangankan masyarakat, pendamping juga terkadang belum memahami konseptual, misalnya value chain concept.

Diskusi ini terus berkembang hingga bagaimana cara menemukan solusi yang tepat untuk pemberdayaan masyarakat atau bagaimana cara yang efektif agar masyarakat dapat diberdayakan menuju kesejahteraan bersama. Dr. Teuku mengatakan di dalam presentasinya bahwa masyarakat local/petani mesti ditempatkan pada posisi yang baik (dilatih, dihargai pendapatnya). Masyararakat ini membutuhkan stakeholders serta Pemerintah setempat untuk mendukung pendanaan sebagai modal untuk melakukan produksi. Namun, masyarakat juga perlu didampingi di dalam pengelolaan dan pengaturan keuangan, pemerintah setempat juga perlu menyediakan infrastruktur dan pasar agar masyarakat memeroleh kepastian pasar.

Prof. Husin di akhir sesi diskusi juga mengatakan bahwa ketika kita ingin memberdayakan masyarakat, jangan melulu membawa program baru, belum tentu program tersebut merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh masyarakat. Local wisdom yang ada di masyarakat sangat baik, menggambarkan apa yang selama ini mereka yakini dan pelajari. Jadi, kita bisa belajar dari local wisdom yang dimiliki, bersama-sama dengan masyarakat untuk merencanakan program pembangunan suatu wilayah. Keanekaragaman hayati dan budaya di tiap daerah menyebabkan program-program yang turun ke masyarakat tidak bisa digeneralisir untuk semua daerah (tidak hanya top-down, melainkan juga buttom-up).

Materi : CTSS Power of Community Heart Mind and Soul Rev.3

Youtube :

Share

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.