7TH Graduate student monthly Sustainability seminar “SPEDAGI Movement untuk Era Baru Kehidupan”

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi memungkinkan orang tinggal di mana saja, sehingga desa maju-sejahtera, mandiri-lestari akan membantu mewujudkan keseimbangan desa-kota (Cyral). Lahirnya “The Purpose Generation” sekarang ini sebuah indikator nyata fenomena Spiriterial. Revitalisasi Desa yang digerakkan generasi ini akan membawa kehidupan global menuju era Cyral-Spiriterial dimana cita-cita keberlanjutan kehidupan memiliki harapan besar untuk diwujudkan.
CTSS-GSMSs 7

Kelestarian alam sejatinya merupakan sistem komplek yang terjadi di bumi dalam rangka menjaga keberlangsungan masa depan bumi. Sayangnya, kehadiran manusia di bumi seperti menjadi pengganggu dan perusak kelestarian alam yang sudah menjadi sistem di alam. Bahkan, beberapa manusia bertransformasi sebagai perusak besar di alam yang mampu merusak hutan, gunung maupun lautan. Transformasi manusia bertujuan untuk mengejar label industrialisasi yang berkembang secara besar-besaran di berbagai negara di seluruh penjuru bumi tak terkecuali negara Indonesia. Industrialisasi inilah yang menjadi sumber utama terjadinya urbanisasi dan krisis iklim yang terjadi di bumi.

Industrialisasi yang memicu urbanisasi masyarakat desa ke perkotaan menjadi bumerang waktu jika tidak diantisipasi dengan baik dan benar. Pasalnya, ketika industri macet seperti pada kondisi pandemi COVID-19 saat ini, masyarakat yang bermigrasi ke kota berbondong-bondong kembali ke desa. Sementara krisis iklim yang terjadi justru menjadi ancaman bagi penduduk desa karena mayoritas penduduk desa menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian yang sangat dipengaruhi oleh iklim.

Fenomena tersebut memotivasi Singgih S Kartono untuk mengembangkan sebuah konsep pemikiran yang diberi nama Cyral-Spiriterial. Cyral berasal dri kata City+Rural, sementara Spiriteal berasal dari Spiritual+Material. Cyral-Spiriterial ini sebuah era setelah era industri, ketika dikotomi dalam bagai aspek kehidupan kemudian melebur membentuk tatanan nilai-nilai baru.

Cyral Spiriterial adalah sebuah skenario yang disusun untuk menjelaskan tentang apa yang telah terjadi, sedang terjadi dan apa yang seharusnya masyarakat dunia lakukan jika ingin mewujudkan cita-cita keberlanjutan kehidupan global. Satu fenomena penting yang sering tidak disadari adalah fenomena disorientasi, yaitu kondisi kehilangan orientasi ketika masyarakat diterpa arus informasi dan perubahan-perubahan yang berlangsung sangat cepat tanpa bisa menghindar. Oleh karena itu menemukan “peta besar” adalah sesuatu yang penting dilakukan, agar masyarakat bisa terbebas dari situasi diorientasi dan bisa melihat dengan jelas dimana masyarakat berada, kemana arus besar menuju dan sebaiknya masyarakat mesti gimana, kemana dan lewat apa. Cyral-Spiriterial adalah sebuah “peta besar” yang disusun untuk membantu masyarakat terbebas dari situasi terdisorientasi sebagai individu, bangsa Indonesia dan umat dunia.

Cyral Spiriterial adalah sebuah skenario yang disusun untuk menjelaskan tentang apa yang telah terjadi, sedang terjadi dan apa yang seharusnya masyarakat dunia lakukan jika ingin mewujudkan cita-cita keberlanjutan kehidupan global. Satu fenomena penting yang sering tidak disadari adalah fenomena disorientasi, yaitu kondisi kehilangan orientasi ketika masyarakat diterpa arus informasi dan perubahan-perubahan yang berlangsung sangat cepat tanpa bisa menghindar. Oleh karena itu menemukan “peta besar” adalah sesuatu yang penting dilakukan, agar masyarakat bisa terbebas dari situasi diorientasi dan bisa melihat dengan jelas dimana masyarakat berada, kemana arus besar menuju dan sebaiknya masyarakat mesti gimana, kemana dan lewat apa. Cyral-Spiriterial adalah sebuah “peta besar” yang disusun untuk membantu masyarakat terbebas dari situasi terdisorientasi sebagai individu, bangsa Indonesia dan umat dunia.

Pergeseran peradaban manusia sesungguhnya bukan hanya gerak linier ke depan, namun juga pergeseran vertikal spiritual-material. Situasi yang tidak seimbang akibat dominasi sisi spiritual maupun sisi material mendorong manusia mencari keseimbangan baru. Era Industri telah menyeret kehidupan ke dasar jurang materialisme dengan dampak kerusakan alam dalam skala global dan munculnya kekosongan batin. Kehidupan lama (tradisional) yang lebih seimbang menjadi inspirasi arah masa depan. Prototype peradaban barupun mulai menampakkan wujudnya, ketika nilai-nilai lama muncul kembali dalam wujud baru dan hal-hal yang berlawanan kemudian berkawan. Negara-negara maju tidak lagi bergerak ke industri tahap lanjut, namun menapak era baru Era Pasca Industrial. Titik pergeseran ini sesungguhnya merupakan momentum yang sangat baik untuk mewujudkan kebersamaan dan gotong royong global yang menjadi prasyarat pewujudan cita-cita keberlanjutan kehidupan di bumi. Bangsa-bangsa yang sedang/belum berkembang memiliki kesempatan untuk langsung menuju ke era baru, mereka berada dekat masa depan, namun selama ini melihatnya sebagai masa lalu. Negara-negara maju seharusnya membantu negara-negara sedang berkembang untuk bisa melihatnya sebagai masa depan dan mengajak untuk bersama-sama menuju era baru, era Pasca Industrial, era Cyral-Spiriterial.

“Masa depan yang dituju oleh bangsa-bangsa maju sesungguhnya sama dengan banyak hal yang masih ada dalam kehidupan kita. Kita bahkan ibaratnya tidak perlu jalan jauh, kita cukup membalikkan badan dan kita akan menemukan masa depan ada di sana. Kita memang perlu cuci muka, ucek-ucek mata dulu atau menggunakan kacamata baru untuk bisa melihatnya dengan cara berbeda. Saya bisa melihat papringan (kebun bambu) yang lembab, gelap, banyak nyamuk dan jadi tempat sampah warga sebagai taman bambu yang indah, karena saya melihatnya dengan mindset yang berbeda. Dan papringan-pun kemudian mewujud menjadi Pasar Papringan,” jelas Singgih.

Untuk menjadi bangsa yang maju, tidak harus menjadi magrong-magrong seperti mereka. Pasar Papringan merupakan sebuah contoh bagaimana bangsa Indonesia bisa menjadi setara dengan bangsa maju dengan apa yang desa miliki. Pasar Papringan adalah plastic free market karena orang desa dulu memang ecofriendly. Lembaran daun pisang dan keranjang bambu untuk kemasan dan wadah belanja dihasilkan disana. Makanan ndeso yang dijualpun sehat karena bebas dari bahan tambahan industri dan juga glutten free. Alam desa kaya dengan bahan-bahan yang bisa membuat sedap makanan dan pewarna alam yang membuat makanan tampil menarik. Ketiadaan tepung terigu karena gandum memang bukan tanaman lokal lah yang kemudian melahirkan produk glutten free, onone mung telo yo gaweyo soko telo.

“Demikian juga mestinya dengan Indonesia yang memiliki 74.954 desa, kita harus mulai dengan aset terbesar yang ada dan memiliki akar kuat di kita yaitu desa. Hampir semua negara di dunia ini awalnya adalah negara desa, dan kini sebagian warga dari negara-negara maju mulai bisa melihat masa depan sesungguhnya ada di wilayah pedesaan,” tambah singgih.

Saat ini Indonesia memiliki 74.954 desa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Revitalisasi Desa merupakan salah satu langkah strategis dan mendasar, karena desa-desa yang terdegradasi selama Era Industri sesungguhnya merupakan sumber dari hampir semua permasalahan dunia. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi memungkinkan orang tinggal di mana saja, sehingga desa maju-sejahtera, mandiri-lestari akan membantu mewujudkan keseimbangan desa-kota (Cyral). Lahirnya “The Purpose Generation” sekarang ini sebuah indikator nyata fenomena Spiriterial. Revitalisasi Desa yang digerakkan generasi ini akan membawa kehidupan global menuju era Cyral-Spiriterial dimana cita-cita keberlanjutan kehidupan memiliki harapan besar untuk diwujudkan.

Materi : Spedagi Movement CTTS-IPB 2020
Youtube Live : Klik Disini

Share

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published.